Susno Raih Penghargaan Top News Maker
Aprizal Rahmatullah - detikNews
Jakarta - Meski ditangkap Mabes Polri, Komjen Pol Susno Duadji terus menjadi perhatian publik. Dia diberi penghargaan Top News Maker oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, karena menjadi sumber pemberitaan.
"PWI Jaya memberikan penghargaan kepada Pak Susno sebagai top news maker, orang yang diberitakan luar biasa. Terbukti, memang ada markus di institusi penegak hukum, hakim, jaksa, polisi dan pengacara," kata Ketua PWI Jaya, Kamsul Hasan, di Gedung Bareskrim, Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (11/5/2010).
Kamsul mengatakan, Susno seharusnya menerima penghargaan di Ruang Serba Guna PWI Jaya. "Tetapi, karena Pak Susno dinaikkan statusnya, Pak Susno tidak bisa hadir," ujar Kamsul.
Penghargaan itu akhirnya diberikan Kamsul Hasan kepada istri Susno, Herawati di depan Gedung Bareskrim. Herawati yang tengah menjenguk sang suami ini menerima piala setinggi sekitar 40 centimeter yang diberi nama Susno serta foto Susno berseragam polisi.
Herawati mengucapkan terima kasih kepada PWI Jaya. "Mohon maaf, Bapak tidak bisa menerima langsung karena sedang diperiksa. Terima kasih juga kepada media yang telah mendukung Bapak, setiap saat, setiap waktu," ujar Herawati.
(aan/fay)
-------------------------------
Berita di atas hanyalah contoh. Hampir tiap hari kita disuguhi berita-berita politik yang ga ada habisnya semacam itu. Bahkan seperti sambung menyambung menjadi satu (itulah indonesia..) Para "pemimpin" seolah sibuk menyelamatkan jabatan, kedudukan dan nama baiknya sendiri. Trus kapan mereka memikirkan rakyatnya ? Apakah rakyat bisa kenyang dengan nonton drama bersambung seperti itu ? Masing - masing saling menyalahkan, ga ada yang mau mengakui kesalahannya dengan kesatria. Malah kadang yang jelas bersalah pun masih bisa "selamat atau diselamatkan".
Rakyat berjuang demi hidupnya, demi mengisi perut keluarganya. Mereka butuh rumah yang layak untuk ditempati bersama keluarganya. Mereka butuh kemudahan mencari uang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari yang makin melambung. Mereka butuh menyekolahkan anak-anaknya dengan biaya murah, tanpa embel-embel gratis tapi harga buku pelajaran terlalu mahal untuk dibeli. Mereka senang ketika anak-anaknya bisa sekolah di dalam ruang kelas yang nyaman, tanpa bocor atau retak-retak di dindingnya. Mereka butuh pengobatan yang murah dan terjangkau di manapun mereka tinggal. Mereka sebenarnya punya hak untuk menuntut hak-haknya itu kepada para pemimpin dan penguasa negara ini, negara di mana mereka bertahan hidup.
Pernahkah para pejabat yang terhormat itu berpikir, bagaimana seandainya mereka yang jadi rakyat miskin yang katanya harus dientaskan ? Pernahkah mereka berpikir bagaimana rasanya tinggal di rumah yang terbuat dari kardus atau papan sisa bangunan ? Pernahkah mereka membayangkan bagaimana jika anaknya sekolah di bangunan yang hampir roboh, dan tidak kuat membeli buku pelajaran? Pernahkah para pemimpin itu membayangkan dirinya menjadi seorang pemulung yang hidup dari mengorek-orek sampah demi mendapatkan uang sepuluh ribu sehari demi memberi makan keluarganya ?
Kalo mereka tiap hari sibuk cakar-cakaran sendiri demi mempertahankan kedudukan dan posisi, mana sempat memikirkan rakyatnya sudah makan apa belum ? Tuhan selama ini seolah diam melihat tingkah polah anak bangsa ini. Tapi Tuhan Maha Melihat dan Mengetahui. Segala sesuatu akan ada pertanggungjawaban. Apalagi pemimpin bangsa sebesar Indonesia ini, pasti tidak lepas dari perhitunganNya, tak akan ada rakyat yang terlewat dr tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.

No comments:
Post a Comment